(0231)-8800965

WhatsApp: 0813-1378-2963

Kongregasi Santo Dominikus

Awal Berdirinya Kongregasi

Pater Daniel Josephus van Zeeland

Pater Daniel Josephus van Zeeland, OP
Pendiri Kongregasi Suster Santo Dominikus dari Keluarga Kudus.

Kongregasi Suster-suster Santo Dominikus di Indonesia merupakan perluasan dari Kongregasi Suster-suster Santo Dominikus dari Keluarga Kudus di Belanda. Kongregasi ini didirikan oleh Pater Daniel Josephus van Zeeland, OP pada 25 Februari 1848 dengan rumah induk di Neerbosch, Nijmegen, Belanda.

Pada tahun 1850, Mgr. Johannes Zwijsen memberikan izin resmi untuk menerima calon anggota baru. Pada pesta Santo Dominikus tahun 1851, beliau mengesahkan Kongregasi Suster Santo Dominikus dari Keluarga Kudus secara resmi.

Sejak awal berdiri, kongregasi ini memiliki misi utama untuk mewartakan Injil melalui pendidikan, pelayanan sosial, pembinaan iman, dan karya kemanusiaan. Semangat tersebut terus diwariskan hingga berkembang ke berbagai negara, termasuk Indonesia, dan menjadi dasar lahirnya berbagai karya pendidikan Katolik yang masih terus berkarya hingga saat ini.

Misi Dominikan di Indonesia

Pater Daniel Josephus van Zeeland termasuk dalam jajaran misionaris Dominikan asal Eropa yang diutus ke wilayah Hindia Belanda untuk mengembangkan karya pastoral dan pendidikan Katolik. Salah satu tokoh yang berperan penting adalah Pater Dominikus van Zeeland, OP, yang berasal dari Provinsi Dominikan Belanda.

Di Pulau Jawa, beliau mengabdikan hidupnya untuk memperkuat iman umat, membangun sekolah-sekolah Katolik, mendampingi komunitas, serta bekerja sama dengan para religius dan umat awam dalam bidang pendidikan. Pelayanan tersebut menjadi fondasi berkembangnya berbagai lembaga pendidikan Katolik di Indonesia.

Kontribusinya turut memberi pengaruh terhadap tumbuhnya karya pendidikan yang kemudian berkembang menjadi berbagai yayasan pendidikan Katolik, termasuk Yayasan Santo Dominikus Cabang Cirebon.

Spiritualitas Dominikan
  • Semangat Veritas (Kebenaran).
  • Pewartaan Injil melalui dunia pendidikan.
  • Perpaduan doa, studi, dan pelayanan.
  • Pembentukan iman dan intelektualitas peserta didik.
Pater Dominikus van Zeeland

Santo Dominikus (1170–1221) adalah seorang imam Katolik asal Spanyol yang dikenal sebagai pendiri Ordo Pengkhotbah (Ordo Dominikan) dan penyebar doa Rosario

0

Para Suster Ursulin tiba di Cirebon.

0

Maria School diresmikan.

0

Berdirinya SMP Santa Maria.

0

Kedatangan Suster - Suter Santo Dominikus.

0

Penataan Gedung Biara.

Yayasan Santo Dominikus Cirebon

Sejarah Berdirinya Yayasan

Maria School

Maria School (1935), cikal bakal karya pendidikan Santa Maria Cirebon.

Sejarah berdirinya Yayasan Santo Dominikus Cabang Cirebon berawal dari karya pendidikan yang berkembang di Santa Maria Cirebon. Awalnya karya pendidikan tersebut dirintis oleh para Suster Ursulin. Pada tanggal 23 Juni 1933, Suster-Suster Ursulin Serikat Unio Romano dari Jalan Pos Jakarta mulai menetap di Cirebon.

Sebagai bentuk pelayanan di bidang pendidikan, para Suster Ursulin mendirikan sebuah Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) yang diperuntukkan bagi masyarakat Cirebon. Kedua sekolah tersebut diresmikan pada 6 September 1935 dengan nama Maria School.

Pada tahun 1940, ketika Perang Dunia II mulai berkecamuk, kegiatan pendidikan terpaksa dihentikan karena gedung Maria School digunakan sebagai markas tentara Belanda. Situasi semakin sulit ketika pada tahun 1942 Jepang mendarat di Indonesia melalui Eretan, Indramayu, kemudian menuju Cirebon.

Para pastor, Suster Ursulin, warga Belanda, dan pegawai pemerintahan ditawan oleh Jepang sehingga kegiatan belajar mengajar dipindahkan sementara ke Pastoran. Setelah Pastor Reichert, OSC datang, para Suster Ursulin kembali ke biara pusat.

Pada tahun 1948, Pastor Soemodiwiryo, OSC membuka kembali Sekolah Dasar dengan nama SD Paroki Santo Yosef. Melihat lulusan SD yang tidak tertampung di SMP Negeri, maka didirikanlah SMP Santa Maria pada tanggal 1 Mei 1949.

Nama Santa Maria dipilih untuk menegaskan identitas sekolah sebagai sekolah Katolik yang terbuka bagi seluruh peserta didik dari berbagai suku, agama, dan etnis sehingga tercipta suasana belajar yang penuh persaudaraan.

Setelah keadaan kembali aman, karya pendidikan ditawarkan kembali kepada para Suster Ursulin. Namun mereka memilih untuk tidak melanjutkan pengelolaannya karena harus memusatkan perhatian pada karya pendidikan di Jakarta dan Bandung.

Suster Dominikan

Enam Suster Dominikan pertama yang datang ke Cirebon pada 21 Juli 1950.

Kedatangan Suster Dominikan

Pada tanggal 21 Juli 1950, enam orang Suster Dominikan tiba di Cirebon untuk melanjutkan karya pendidikan yang sebelumnya dirintis oleh para Suster Ursulin. Mereka adalah:

  • Sr. Hubertine, OP
  • Sr. Bernadette, OP
  • Sr. Rosa, OP
  • Sr. Fransiska, OP
  • Sr. Ludovica, OP
  • Sr. Marie Yoseph, OP

Pada awal kedatangannya, gedung utama masih digunakan oleh Mobil Brigade Kepolisian Republik Indonesia sehingga para suster harus berjalan kaki setiap hari menuju sekolah di Jalan Pesisir No. 32.

Sr. Marie Yoseph, OP dipercaya menjadi Kepala SMP Santa Maria, Sr. Bernadette, OP mengajar di TK, sedangkan para suster lainnya mengajar di SD sekaligus mengurus kehidupan komunitas.

Yayasan Santo Dominikus Saat Ini

Meskipun sempat mengalami berbagai tantangan, termasuk wafatnya Sr. Marie Yoseph, OP dan keterbatasan sarana, karya pendidikan terus berkembang. Pada 9 Mei 1951, penataan gedung biara mulai terlaksana di bawah kepemimpinan Sr. Hubertine Simonse, OP.

Berawal dari sebuah karya pendidikan sederhana sejak tahun 1933, Yayasan Santo Dominikus Cabang Cirebon kini terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang menaungi berbagai jenjang pendidikan dengan semangat Veritas, cinta kasih, pelayanan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Gedung Yayasan Santo Dominikus

Lokasi Kami

Jalan Sisingamangaraja No. 22
Kota Cirebon, 45112

081 31378 2963

(0231) 8800965